Kumpulan Sejarah Biografi Terlengkap

Informasi Kumpulan sejarah biografi terlengkap, pengertian sejarah, apa itu sejarah, sejarah adalah.

LightBlog
Responsive Ads Here

Sunday, February 4, 2018

Sejarah Biografi : Biografi dr Lo Siaw Ging - Dokter Teladan

Hampir semua masyarakat Solo pasti sudah tahu atau mengenal nama dr Lo Siaw Ging, Dokter yang satu ini menjadi buah bibir di Solo maupun di media karena kedermawanannya, meskipun usianya yang sudah lanjut, selama ia berpraktik menjadi dokter, ia tidak pernah meminta bayaran dari pasien yang ia obati, bahkan terkadang ia membantu pasien yang tidak bisa menebus obat dengan uang yang dimiliki oleh dr Lo Siaw Ging sendiri, hal ini menjungkirbalikkan hal yang biasa orang bicarakan yaitu "Orang miskin dilarang sakit" karena biaya berobat mahal. Dr Lo Siaw Ging sang Dokter Teladan ini memiliki visi yang sama dengan dr lie Dharmawan yang juga salah satu dokter yang patut untuk diteladani karena mereka sangat peduli dengan orang yag kurang mampu. Tidak menyerupai kebanyakan dokter dokter yang memiliki kehidupan yang kaya atau berkecukupan luar biasa, kehidupan dr Lo Siaw Ging sangat sederhana.

Biografi dr Lo Siaw Ging
dr Lo Siaw Ging Lahir di Magelang, 16 Agustus 1934, Lo tumbuh dalam sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang merupakan pengusaha tembakau yang moderat. Ayahnya berjulukan Lo Ban Tjiang dan ibunya berjulukan Liem Hwat Nio, keduanya memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih apa yang dinginkan. Salah satunya yakni dikala Lo ingin melanjutkan SMA ke Semarang, karena beliau menganggap tidak ada SMA yang kualitasnya indah di Magelang dikala itu.

Setamat SMA, Lo Siaw Ging menyatakan keinginannya untuk kuliah di kedokteran. Ketika itu, ayahnya hanya berpesan kalau ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya kalau ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Rupanya, nasehat itu sangat membekas di hati Lo. Maksud nasehat itu, menurut Lo Siaw Ging, seorang dokter tidak boleh mengejar bahan semata karena peran dokter adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau hanya ingin mengejar keuntungan, lebih baik menjadi pedagang yang berarti "Jika ingin kaya jangan menjadi Dokter tetapi jadilah seorang pedagang."
Jadi siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melayani dengan baik. Membantu membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bukan menjual obat,
Lo Siaw Ging sudah menjadi dokter semenjak 1963, Lo Siaw Ging mengawali karir dokternya di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik Dr Oen Boen Ing (1903-1982), seorang dokter legendaris di Solo. Pada masa orde baru, poliklinik ini menjelma RS Panti Kosala, dan kini berganti nama menjadi RS Dr Oen. Selain dari ayahnya, Lo Siaw Ging mengaku banyak mencar ilmu dari Dr Oen. Selama 15 tahun bekerja pada seniornya itu, Lo Siaw Ging mengerti benar bagaimana seharusnya menjadi seorang dokter. ”Dia tidak hanya pintar mengobati, tetapi juga sederhana dan jiwa sosialnya luar biasa,” kata mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo.

Dokter Lo Siaw Ging menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Ia justru marah kalau ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal ia tidak punya uang. Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang tidak bisa menebus resep. Ia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap final bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.
Saya tahu pasien mana yang bisa membayar dan tidak. Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan.
Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di daerah prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerka, RS Kasih Ibu. Alhasil, Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, karena hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.

Apa yang dikatakan Lo Siaw Ging ihwal membantu siapa pun yang membutuhkan itu bukanlah omong kosong. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 lalu misalnya, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta biar beliau tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo tetap mendapatkan pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir balasannya beramai-ramai menjaga rumah Lo.


“Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?” kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.

Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar. Kini, meski usianya sudah hampir 80 tahun, dr Lo Siaw Ging tidak mengurangi waktunya untuk tetap melayani pasien. Setiap hari, Rumah dr Lo di Jalan Yap Tjwan Bing No 27, Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, tampak selalu dipadati warga yang mengantre untuk berobat kepada dr. Lo Siaw Ging. Setiap hari, dr Lo mulai buka praktik pukul 06.00 dan pukul 16.00. Saat siang, ia melayani pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Setelah istirahat dua jam, ia kembali buka praktek di rumahnya hingga pukul 20.00.
Selama saya masih kuat, saya belum akan pensiun. Menjadi dokter itu gres pensiun kalau sudah tidak bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu sesama, dan itu tidak bisa dibayar dengan uang..
Menurut Lo Siaw Ging, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yang ia lakukan. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tidak akan bisa melaksanakan semuanya. “Dia perempuan luar biasa. Saya beruntung menjadi suaminya,” ujar Lo ihwal perempuan yang ia nikahi tahun 1968 itu.

Puluhan tahun menjadi dokter, dan bahkan pernah menjadi administrator sebuah rumah sakit besar, kehidupan Lo tetap sederhana. Bersama istrinya, ia tinggal di rumah bau tanah yang relatif tidak berubah semenjak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah yang megah dan bertingkat menyerupai umumnya rumah dokter.
Rumah ini sudah cukup besar untuk kami berdua. Kalau ada penghasilan lebih, biarlah itu untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat hingga usia menyerupai sekarang ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin banyak kesempatan kita untuk membantu orang lain.
Alumni dari Universitas Airlangga tahun 1962 yang sempat merasakan pendidikan di Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia ini pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, periode 1981-2004. Setelah pensiun dari dingklik direktur, suami dari Maria Gan May Kwee tersebut tetap melayani pasien di rumah sakit yang sama dan di daerah praktiknya sekaligus rumahnya di Jagalan, Jebres, Solo, hingga kini. Setiap final bulan, apotek langganan dokter Lo Siaw Ging akan memperlihatkan tagihan obat yang besarnya bervariasi antara ratusan ribu hingga sepuluh juta per bulan. Untuk pasien yang sakit parah, dokter Lo juga menyediakan dana langsung untuk keperluan rawat pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu. Di tengah biaya obat-obatan yang mahal, pelayanan rumah sakit yang sering menjengkelkan, dan dokter yang lebih sering mengutamakan materi, eksistensi Lo Siaw Ging memang menyerupai embun yang menyejukkan. Rasanya, sekarang ini tidak banyak dokter menyerupai Dr Lo. biografiku.com

No comments:

Post a Comment